Maukah kau menjadi temanku?
Aku Vidia. Aku membenci semua orang. Di sekolah ini tidak ada yang menyukaiku. Tapi aku nggak peduli, Karena aku juga nggak suka sama mereka. Kenapa bisa begitu aku juga nggak tahu. Yang aku tahu, bahwa di dunia ini kau cuma sendiri. Orang-orang yang menyebut dirinya sahabat atau bahkan kekasihmu pada akhirnya akan membuatmusadar kalau ternyata mereka cuma orang-orang munafik yang cuma mau mengambil keuntungan dengan menjalin sebuah hubungan denganmu. Dan dua orang yang kau klaim sebagai orangtua adalah para diktator yang berdaulat penuh atas kehidupanmu. Mereka mengambil alih atas seluruh hidupmu hingga kau tak punya kesempatan untuk bernapas sekalipun.Aku benci semuanya. Aku muak pada orang-orang di sekelilingku. Pacarku berselingkuh dengan sahabatku. Papa setiap hari bertengkar dengan mama. Mungkin ini ceritalama yang sering muncul di sinetron dan novel. Tapi ketika kau melihat langsung dua insan terdekatmu menjalin hubungan di belakangmu, dan orangtuamu yang saling berteriak setiap hari, kau akan mengerti cerita klasik itu memang ada.Lalu datang makhluk itu.Pertama kali melihatnya, aku langsung tertawa. Bagaimana tidak? Dengan kacamata tebal, baju aneh, dan potongan rambut bob yang menyerupai jamur membutnya terkesan sebagai manusia yang lahir di abad yang salah.“N-nama saya Andreas, T-tapi saya biasa di panggil Andre…” Cowok itu memperkenalkandiri. Tanpa sadar aku tersenyum sinis ke aranya. “Saya baru pindah dari Jakarta…”“Halo Andrew, welcome in Bandung..!” Sapa salah satu anak yang kemudian disambut tawa seisi kelas. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu pindah? Rumahmu digusur, ya?”Ha… ha… ha…! Seluruh kelas meledak lagi. Aku melirik wali kelas kami. Kenapa dia cuma diam melihat anak baru diperlakukan seperti itu?Lalu aku melihat seulas senyum di bibir Andre. “Nggak, kok. Kami pindah mencoba usaha disini. Di Jakarta usaha ayah ngak begitu maju,”“Usaha apa, sih? Tambal ban?” Rendy, anak yang dari tadi bertingkah rese tak henti-hentinya mengejek. “Gue saranin ortu lo ganti profesi, deh. Jadi desainer atau buka butik. Bandung kan Paris van Java!”“Benar juga. Dan tema desain perdananya Back to Last Time. Liat saja anaknya!” Akhirnya aku nggak tahan juga diam dari tadi. Dan komentarku barusan langsung memicu kehebohan kelas.Andre diam, tetap menyungging senyum. Aku sebal melihatnya. Bagaimana dia tetap bisa begitu setelah dari tadi jadi bulan-bulanana seisi kelas? Aku mendesah keras. Benar-benar orang naΓ―f!—Lagi-lagi seperti ini. Mereka selalu bertengkar. Entah apa yang memiu perselisihan itu kali ini. Yang jelas saat ini aku berada di kamar dengan musik bergemakeras dalam headset di telingaku. Biar saja musik keras ini membuat telingaku tuli, sehingga aku nggak perlu lagi mendengar pertengkaran demi pertengkaran setiap hari.Sejak kecil aku sudah akrab dengan mereka.Bukan akrab layaknya orangtua dengan anakseperti piknik atau nonton bersama, walaupun itu yang selalu kuinginkan. Aku akrab dengan suara teriakan, makian, bahkan bantingan meja dan keramik. Bagiku hal-hal seperti itu sudah seperti makanan sehari-hari.Tapi aku juga bukan gadis bodoh yag melampiaskan depresi dengan merusak diri seperti kebanyakan remaja broken home. Aku tidak minum, tidak memakai nark*ba, atau dugem setiap hari. Ku tidak melampiaskan kemarahanku pada apapun. Hanya jangan pernah bersikap sok akrab di depanku, karena itu membuatku muak dan memuntahkan kata-kata kasar. Jujur saja, aku ahli dalam hal ini. Tentunya karena ada pelajaran itu di rumah.Di sekolah aku nggak punya teman. Tapi itu bukan masalah. Aku nggak butuh mereka. Dari dulu aku sudah terbiasa sendiri. Terasing dan diacuhkan.Aku melirik Andre yang duduk di sebelahku. Cowok udik itu tampak serius sekali menyimak penjelasan Pak Edo. Dia melempar senyum ketika tak sengaja bertatap mata denganku. Aku mendengus sebagai balasannya.“Vidia!” Andre memanggilku saat aku hendak ke luar dari kantin. Aku menoleh. Cowok itu tersenyum kikuk.“Aku sulit memahami pelajaran Pak Edo tadi,”“Urusannya sama gue apa?”“Kata temen-temen, kamu termasuk murid pintar di sekolah,”Aku tertawa kecil, “Elo udah dibohongi, bego!”Lalu aku beranjak pergi.“Vidia!”“Apa lagi, sih!” Bentakku keras. Andre terpaku. Wajahnya menunjukan ekspresi terkejut. Cowok itu diam, menunduk, lalu pelan-pelan memutar badannya menjauhiku.Entah kenapa, untuk pertama kalinya ada perasaan iba yang merambat hatiku. Oh, God… aku mendesah pelan.“Sepulang sekolah, di perpustakaan.” Ucapkuakhirnya,Langkah Andre langsung berhenti. Dia berbalik menatapku dengan mata berbinar. “Benar?”“Jangan telat, atau elo bakal menyesal!”Andre tersenyum sambil mengacungkan duajarinya. Aku menahan tawa. Dasar udik, darimana dia dapat ekspresi konyol itu?Sejak aku mengajarinya Kimia di perpustakaan tempo hari, tanpa kusadari sudah sebulan lebih aku akrab dengan Andre. Kami sering mengerjakan tugas bersama, ke kantin, bahkan sudah dua kali dia kuajak belajar di rumah. Mungkin tepatnya, aku memberinya les privat gratis. Harus kuakui, dipelajaran Sains cowok itu benar-benar payah. Dia sering kubentak karena belum juga bisa mengerjakan soal-soal latihan Kimia, tapi Andre ngak pernah mengeluh, apalagi protes. Cowok itu semakin serius setiap kali kalimat makian keluar dari mulutku.Siang itu, Andre menghampiriku dengan wajah ceria di taman belakang sekolah. Aku melepas headsetku dari telinga.“Vidia, liat!” Ditunjukannya kertas ujian Kimiapadaku. “Aku dapat niai delapan. Ini berkat kamu. Makasih, ya? Kamu baik banget…” Andre berterima kasih seperti anak kecil yang baru diberi cokelat. Bagiku itu sangat berlebihanAku memutar badan dan kembali memakai headset. Melihat aku tidak memberi respon apapun. Andre terlihat agakkecewa. Tapi tak berapa lama kemudian cowok itu tersenyum dan meneruskan kata-kataya.Sepuluh menit berlalu.“Biarpun kamu menutup telinga dan nggak mendengarkan, aku tetap mau bilang terimakasih banyak, Vidia…” Andre mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman. Lalu cowok itu beranjak pergiAku melirik sekilas. Kamu salah, Andre. Aku sedang tidak mendengarkan apapun biarpunaku memasang headset di telinga. Dan aku mendengar semua yang kamu katakan.“Biarpun orang lain memandangmu sebagai gadis kasar dan dingin, tapi bagiku kamu adalah sahabat dengan banyak ketulusan. Dari teman-teman yang pernah aku temui, cuma kamu yang bersedia belajar denganku.Kamu nggak pernah berhenti sampai aku benar-benar mengerti. Dan gadis bernama Vidia ini nggak pernah minta imbalan atas jasanya.”“Aku nggak peduli seberapa sering kamu membentak bahkan memakiku. Tidak peduliseberapa kasar kata-kata yang kamu tunjukan padaku. Aku tetap menyukai kamu, karena kamu adalah malaikat yang sudah Tuhan kasih buat membantuku di sekolah ini.”“Aku mohon, jangan berhenti buat jadi temanku…”Aku menghela napas pelan dan kemudian termenung sendiri. Kapan terakhir kali ada yang berterima kasih padaku? Kapan terakhir kali aku dimintai bantuan?Dan kapan terakhir kali ada yang berkata kalau dia berharap aku mau berteman dengannya?Aku mendongakkan kepalaku ke atas, menggeleng-gelengkannya, lalu mengerjap-ngerjapkan mataku agar jangan sampai menangis. Tapi sial, air mata ini ternyata tidak bias dibendung. Akhirnya kubiarkan cairan bening itu mengalir deras dan membasahi pipiku.Aku menatap nanar dua orang yang kini berdiri di hadapanku. Mereka nampak terkejut dengan reaksi yang baru saja aku tunjukkan. Mungkin setahu mereka aku tidakpernah ambil pusing setiap kali pertengkaran itu terjadi. Tapi entah kenapa, kali ini begitu mendengar papa dan mama bertengkar aku langsung keluar dari kamar dan membentak mereka berdua.“Bisa nggak sekali saja ku mendapat ketenangan di rumah sendiri? Hanya satu kali. Apa itu terlalu berlebihan?” Aku berkata sinis. Papa menatapku tajam. Bukannya takut, aku justru balas menatapnya.“Kamu jangan sok ikut campur urusan orang dewasa. Sana, masuk kamar!” Bentak papa.“Kalau begitu bangun rumah ini sampai lantai dua puluh dan buatkan aku kamar di sana agar nggak perlu mendengar pertengkaran kalian!”“Vidia!” Tegur mama. “Jangan melawan kamu!”“Kalian yang buat aku jadi pemberontak!”Plaak! Sebuah tamparan dari tangan papa mendarat di wajahku. Aku tersenyum sinis.“Makasih, Pa. Hari ini kalian sudah menunjukkan kalau selama ini aku nggak pernah punya orangtua!”Aku berjalan gontai menyusuri jembatan. Sejak kejadian semalam aku langsung pergi dari rumah. Aku nggak peduli teriakan mama yang menyuruhku kembali. Kukendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan membuat polisi mengejarku. Tapi itu justru membuatku senang dan mengemudi makin tak terkendali.Aku bersandar di jembatan. Pikiranku benar-benar kalut dan kepala ini rasanya benar-benar berat. Dalam hati aku memaki Tuhan yang menempatkan aku dalam keluarga yang sangat kacau.“Vidia?” Aku menolah pasrah dan kudapati Andre berdiri dengan pandangan cemas. “Aku mencari kamu seharian,”“Buat apa?” Balasku acuh tak acuh.“Tentu saja aku mencemaskan kamu. Hari ini kamu nggak masuk sekolah tanpa keterangan. Aku pikir kamu sakit, jadi aku kerumah kamu. Dan sampai di sana…”“Apa?”“Aku mendengar semuanya dari pembantu kamu. Kamu kabur dari rumah. Jadi aku memutuskan buat mencari kamu,”Aku tertawa kecil. “Kenapa elo begitu peduli sama gue?”“Tentu saja peduli, kamu kan temanku.”Aku menatap Andre tajam. Teman? Tidak ada yang namanya persahabatan di dunia ini. Tidak ada cinta. Tidak ada ketulusan. Semua hubungan hanya didasarkan atas azas untung rugi. Berani sekali dia mengaku jadi temanku? Aku nggak butuh teman! “Guenggak mau jadi temen lo. Pergi sana!”“Biarpun kamu bilang nggak mau jadi temanku, aku nggak peduli. Dan berapa kalipun kamu mengusir, aku tetap nggak akan bergeming. Aku tetap akan mengatakan pada dunia kalau Vidia adalah teman terbaik, sekalipun untuk itu aku harus dihajar sama kamu.”Aku memandang heran ke arah Andre. “Dasar sakit!”Cowok itu tersenyum, “Mampir ke rumahku, yuk?”Dasar aneh. Bodoh. Konyol. Umpatku dalam hati. Tapi aku menuruti ajakannya. Fiuhh… aku pasti sudah gila!Tapi mungkin menjadi gila akan membuatkumerasa lebih baik.Sepanjang perjalanan, aku mencoba menebak tempat tinggal Andre. Aku membayangkan sebuah rumah kecil, sederhana, dan penghuni yang kolot. Kemudian ketika sampai di depan rumahnya, aku tersenyum. Dugaanku benar.Rumah itu kecil, sederhana, tapi terlihat sejuk dan rapi. Di depannya tumbuh pohon mangga yang rindang. Langsung kesan damai kurasakan begitu menginjakkan kaki di ruang tamu. Orangtua Andre menyambut kedatanganku dengan sangat ramah. Ada ketulusan yang terpancar dari mata mereka. Dua adik Andre yang masih duduk di sekolahdasar bersenda gurau di depan televisi. Sesekali ayah Andre mendiamkan mereka agar tenang. Beliau menegur mereka dengan lembut namun tegas. Tidak seperti papa yang menegur dengan bentakan seperti yang aku terima sejak kecil. Dua anak itu menurut. Tidak ada ekspresi marah atau kecewa dari mereka.Aku selalu bersikap dingin pada semua orang. Bahkan pada keluargaku sendiri. Tapi di tengah keluarga ini, aku mersa sangat nyaman dan diterima. Kami bercanda, tertawa, dan makan bersama. Aku bahkan membantu ibu Andre menggoreng dadar jagung. Seingatku, selama ini aku belum pernah sebahagia seperti saat sekarang.“Terima kasih, kamu sudah membantu Andre di sekolah, nak Vidia. Kamu pasti mendapat didikan yang sangat baik di rumah,” Ujar ibu Andre saat aku membantunya mencuci piring.“Tidak juga. Papa dan mama justru sering bertengkar dan saling melempar makian.” Ucapku tanpa sungkan.Ibu Andre tampak terkejut. Tapi detik berikutnya wanita ramah itu tersenyum. “Kamu tetap harus menyayangi mereka, seburuk apapun perangai orangtuamu. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, mereka juga menyayangi kamu, tapi tidak tahu caranya.”“Benarkah? Hanya memberi uang dan memperdengarkan pertengkaran, itukah ungkapan kasih sayang?”“Percayalah, mereka menyayangi kamu. Mereka berusaha menjadi orangtua yang baik untukmu, walaupun cara yang mereka tahu hanyalah dengan uang.”Aku terdiam.Aku berpamitan pada keluarga Andre. Biarpun aku mengatakan pulang ke rumah, tapi sebenarnya aku menginap di sebuah hotel sederhana di pinggir kota.Dalam kamar hotel aku merenungkan kata-kata ibu Andre. Benarkah papa dan mama menyayagiku, hanya tidak tahu caranya? Aku memaki diri sendiri. Tentu sajatidak tahu. Mama berasal dari kelurga broken home, dan papa sejak kecil hidup di pantai asuhan. Mereka tidak pernah memiliki orangtua. Wajar saja kalau mereka tidak tahu caranya menjadi orangtua.Dan selama ini aku cuma diam dan tidak mengatakan apa yang sebenarnya paling kuinginkan. Aku sibuk membuat benteng dan menimbun akar pahit dalam hati.Aku memandang taburan bintang di langit diluar jendela, dan teringat pada Seseorang yang selama ini aku lupakan.Tuhan… aku harus bagaimana?Lalu tiba-tiba ada tekanan kuat dalam hatikuyang menyuruhku mengirim pesan pada mama dan papa. Kuraih ponsel dan mencoba mengetik kalimat. Tapi tidak ada ide apapun yang bisa kutulis.Aku hendak melempar ponsel itu ketika tekanan itu muncul lagi dan mendesakku mengirim pesan. Aku berusaha memberontak, tapi entah kenapa aku tidak bisa melawan suara hatiku sendiri. Aku menyerah dan mengetik kalimat yang hanya bisa kupikirkan saat ini.Pa, ma… aku baik-baik saja. Aku sayang kalian.Lalu pesan terkirim. Tidak perlu waktu lama untuk menerima balasan. Bukan message received, tapi Dad’calling.“Halo,” Aku mengangkat telepon. “Pa..”“Vidia, kamu dimana? Cepat pulang!” Papa berteriak. Tapi ada nada kecemasan dalam suaranya. Mataku mulai terasa panas.“Vidia, kemana saja kamu? Papa dan mama mencari kamu dimana-mana. Kamu pulang sekarang, ya?” Tiba-tiba mama merebut ponsel papa.Tanpa pikir panjang aku langsung berlari dancheck out dari hotel. Kukemudikan mobil dengan kencang agar bisa segera sampai di rumah. Aku ingin cepat-cepat sampai di rumah untuk bertemu papa dan mama. Akankukatakan betapa aku sangat mencintai mereka dan tidak ingin mereka bertengkar lagi.Tapi tiba-tiba… di depanku muncul kepala truk kontainer dengan jarak yang amat dekat. Aku tidak bisa menghindar. Lalu aku mendengar suara yang sangat keras dan kepalaku terantuk sesuatu. Kemudian, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi…—“Vidia…” Aku menoleh. Renata, sepupuku yang meninggal dua tahun lalu berdiri dan tersenyum. Aku heran, bagaimana kami bisabertemu?“Renata?” Panggilku tidak percaya. Sekali lagi gadis itu tersenyum. Terlihat dua lesung pipit menghiasi wajahnya yang putih bersih. Renata sangat cantik.“Kamu terlihat sedih, Vidia…”“Dan kamu terlihat sangat bahagia.”“Kamu sedih, karena kamu tidak mengizinkan siapapun menghiburmu.”Aku mengernyit. Apa maksudmu, Renata?“Kamu menyimpan begitu banyak kepahitan sehingga membenci semua orang. Kamu selalu menyalahkan orang lain atas semua keburukan yang yang kamu alami.”“Papa dan mama…”Renata tersenyum. “Benar, kamu menganggap mereka musibah.”“Mereka selalu bertengkar.”“Untuk itulah kamu ada,”Aku memandang Renata heran. Gadis itu tersenyum kembali, dan pelan-pelan menghilang. Aku mencarinya, tapi sia-sia. Yang kudapati kemudian adalah suara-suarayang aku kenal.“Bangunlah, Vidia. Kami membutuhkanmu…”“Vidia, kami berjanji akan mendengarkanmu.Papa dan mama berjanji akan berusaha membuatmu bahagia…”Pelan-pelan aku membuka mata. Samar-samar aku melihat papa dan mama menatapku. Sesaat kemudian terlihat jelas kalau mama menangis. Papa tersenyum. Senyuman terbaik yang pernah kulihat. Lalu papa menggenggam jemariku. Sangat hangat.Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat Andre berdiri tersenyum di dekat pintu. Aku balas tersenyum padanya. Saat itu, ada kedamaian luar biasa yang melingkupi diriku. Lalu aku melakukan sebuah hal yang sudah lama kutinggalkan.Aku memejamkan mata.
πππ
BalasHapusππ
BalasHapusBagus
BalasHapusBaguss:)
BalasHapusGood
BalasHapusBaguss kk
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusgood
BalasHapusGood
BalasHapusKeren
BalasHapusBagus
BalasHapus